Darul Fuqara wal Masakin
Ikhtiar Sederhana Berbagi Bahagia Lewat Zakat & Derma

Feb
23

Tidak jauh dari rumah kami di sebuah kecamatan di Pasuruan, Yuk Mima, buruh rumah tangga seorang kepala sekolah SDN yang mendapat upah buruh Rp.30.000 perbulan, hidup bersama suaminya Cak Man, penarik becak, dan dua putrinya yang jarang sekali terlihat bersih dan rapi. Kemiskinan keluarganya membuat anak-anaknya tumbuh sedikit dekil meskipun selalu saja rona kebahagian selalu semburat dari bening mata mereka.

Hari itu di hari-hari penuh barokah dibulan Ramadhan, Cak Man-sang suami,to be continue

Feb
22

 

DAFTAR PENERIMA ZAKAT MAL BULAN RAMADHAN

 

Dari Muzakki 1 =Rp.2000.000

 

No Nama Jumlah Keterangan

1 Khan 50000 Pasuruan–Ustadz Pesantren, Miskin

2 Faruq 50000 Pasuruan–Ustadz Pesantren, Miskin

3 Yahya 50000 Probolinngo–Miskin & Fi Sabilillah

4 Sabar 50000 Jombang–Serabutan,,Miskin

5 Tema 50000 Pasuruan–Miskin

6 Nunung 50000 Pasuruan–Buruh , Miskin

7 Nip 50000 Pasuruan–Miskin

9 Ikfar 50000 Pasuruan–Miskin

10 Pur 100000 Pasuruan–Miskin

11 Sabilillah 200000 Pasuruan–Miskin

12 mima 50000 Pasuruan–Buruh , Miskin

13 fadila 50000 Pasuruan–buruh , Miskin

14 Qomariyah 30000 Pasuruan–Miskin

15 Atim 30000 Pasuruan–Tukang Becak, Miskin

16 Leha 30000 Pasuruan–Janda, Miskin

17 Man 10000 Pasuruan–Miskin

18 Sup 50000 Pasuruan–Miskin

19 Nuhan 150000 Gresik- -Serabutan, Miskin

20 Mah 100000 Gresik- -Miskin

21 Sujak 50000 Gresik- -Miskin

22 Ruah 50000 Gresik- -Miskin

23 Tum 50000 Gresik- -Janda, Miskin

24 Nap 50000 Gresik- -Miskin

25 Mistri 50000 Gresik–Miskin

26 Saudah 50000 Gresik- -Miskin

27 Siti 50000 Gresik- -Miskin

28 Supia 50000 Gresik- -Miskin

29 Pi’i 50000 Gresik- -Miskin

30 Syamsudin 50000 Gresik- -Miskin

31 Sofia 50000 Gresik- -Miskin

32 Tia 50000 Gresik- -Miskin

33 Dopa 50000 Gresik- -Miskin

34 Hajir 50000 Gresik- -Miskin

35 Anwari 100000 Gresik- -Miskin

TOTAL 2000000

 

Dari Muzakki 2= Rp. 2000000

 

No Nama Jumlah Keterangan

1 Mul 50000 Nguling–Miskin sakit Lepra

2 Leha 50000 Nguling–Janda Miskin

3 Yuk Umi 30000 Mlaten–Janda Faqir

4 Saipul 50000 Pasuruan–Borongan Pabrik, Miskin

5 Bude Sana 100000 Karang Kliwon–Janda miskin

6 Fathonah 100000 Sedarum–Miskin

7 Bude Sa 100000 Belera–Miskin

8 Mbah Ija 150000 Karang–KliwonMiskin

9 Anis 300000 Nguling–Yatim, Miskin

10 Bek Ma 100000 Sedarum–Miskin

11 Um cak nip 50000 Nguling–Janda, Miskin

12 Somad 50000 Sedarum–Serabutan, Miskin

13 Kholis 50000 Sedarum–Cacat, Miskin

14 Mujib 50000 Sedarum–Ustadz, Miskin

15 Saro 50000 Blera–buruh serabutan , miskin

16 Nganti 50000 Nguling–Buruh cuci, miskin

17 Robi’ 50000 Blora–Buruh tani, miskin

18 Sohi 50000 Nguling–Tukang Becak

19 Sodiq 50000 Nguling–Tukang Becak

20 Abdullah 50000 Nguling–Gorengan

21 Musa 50000 Karang Kliwon–Tukang Becak

22 Wak Nan 50000 Nguling–Tua Faqir

23 Qodir 50000 Karang Kliwon–Miskin

24 Umi Nali 50000 Nguling–Buruh cuci, miskin

25 Cucu Mab Ija 50000 Karang Kliwon–Buruh

26 Yu Sum 50000 Tambah rejo–Pedagang Keliling, Miskin

27 Mbah Muti 50000 Beji–Tua Faqir

28 Kulsum 50000 Sedarum–Miskin

29 Aminul 20000 Nguling–Yatim, Miskin

30 Maulan 50000 Nguling–Miskin

Total 2000000

 

Dari Muzakki 3= Rp. 325000

 

No Nama Jumlah Keterangan

1 Nuhan 50000 Gresik–Miskin

2 Aminah 30000 Pasuruan–Miskin

3 Abdullah 100000 Surabya–Miskin

4 Kartini 50000 Pasuruan–Miskin

5 Al-Islam 30000 Surabaya–Fi Sabilillah

6 Amatullah 50000 Surabya–Miskin

7 Heru 15000 Pasuruan–Miskin

Total 325000

Feb
06

Mokhammad Yahya

20 Februari 2007

Di Jawa Timur, sebuah wilayah dipimpin seorang bupati sekaligus seorang kiyai. Sang kiyai memiliki sebuah pesantren cukup megah. Ihyaul Ulum namanya. Mbah Sa’adah hidup bertetangga dengan sang Bupati. Rumahnya yang tidak berjauhan dengan pesantren lebih mirip kandang sapi daripada rumah manusia sewajarnya. Wanita 60 tahun lebih ini masih saja mengais rezeki dengan tangannya sendiri dengan berjualan gapitan, krupuk dari tepung beras khas daerahnya. Anaknya hanyalah seorang penjual es cao sehingga tidak memampukan dia untuk menanggung penuh hidup ibunya yang sudah mulai renta.

Sa’adah , kebahagian artinya. Orang tuanya mungkin seorang faqir sehingga nama sa’adah dipilihkan untuk putrinya dengan sejumput harapan kelak anaknya menemukan kebahagian (finanasial) yang dia tidak mampu berikan untuk putrinya. Mbah Sa’adah adalah salah satu mustahik dari zakat hamba Allah di Jakarta dan Manila. Kendati hidup miskin nampaknya kebahagian selalu meliputi hatinya sebagaimana namanya melekat didirinya.

Ketika sebagain uang zakat digenggamnya kalimat syukur dan terimakasih berulang-ulang meluncur dari lisannya. Matanya sedikit basah saat bibirnya masih menggumamkan hamdalah. Saat sang amil berpamitan, sekali lagi kalimat terimakasih tulus meluncur dari bibirnya yang sudah mulai pucat dimakan usia. Sekilo gula pasir diberikan kepada amil sebagai ungkapan terimakasih nenek kita ini. Tidak ingin rasanya menerima pemberian nenek kita yang miskin ini, namun ketulusan dan kesungguhan sang nenek membuat amil terdiam kaku dan tidak bisa lain kecuali menerimanya dengan hati terkagum-kagum. Dengan suaranya yang masih keras beliau berkata, semoga Allah saja yang membalas amal kebaikan ini.

Gula pasir pemberiaan mbah Sa’adah menggelitik hati kita. Betapa beliau mengerti makna berterima kasih kepada Allah. Dengan keadaannya yang serba kekurangan, sekilo gula pasir yang pasti berharga bagi beliau diulurkannya sebagai ungkapan syukur hatinya. Mbah Sa’adah menjadi contoh bahwa menabur kebaikan berbuah kebaikan pula.

Berterimakasih dan bersyukur kepada Allah memang bukan dengan membikin sesaji dan dupa untuk Tuhan. Tuhan Maha Kaya dan tidak butuh apa-apa dari kita. Bersyukur kepadaNya adalah justru dengan menolong hambaNya yang didekap kesulitan. Jika Mbah Sa’adah yang menerima rezeki tidak seberapa , dengan gembira memberi sekilo gula pasir, bagaimana dengan ungkapan syukur kita? Tidakkah kita ingin seperti nenek kita itu, yang membalas karunia Allah dengan merelakan sebagiannya untuk membantu hamba-hambaNya. Wa Qalilun Minasy Syakirin, Sungguh sedikit saja mereka-meraka yang pandai bersyukur, begitu sayup-sayup terdengar al-Quran menyindir kita.

Feb
06

Seorang hamba Allah dari Jakarta menitipkan zakatnya sebesar Rp.4.600.000 dan Rp.1.400.00 untuk berkurban. Berikut rincian penerima zakat tersebut.

DAFTAR PENERIMA ZAKAT MAAL

1. Nuhan, Rp. 100.000, Gresik, Kuli batu,Miskin

2. Mbah Saadah, Rp. 100.000, Gresik ,Janda tua,Miskin

3. Sujak, Rp. 25.000, Gresik, Miskin

4. Ruah, Rp. 25.000, Gresik, Miskin

5. Nap, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

6. Tas, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

7. Tum, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

8. Mistri, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua, miskin

9. Sauda, Rp. 25.000, Gresik, Janda, 5 anak miskin

10. Siti, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

11. Supia, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

12. Pi’i, Rp. 50.000, Gresik, Petani miskin

13. Syamsudin, Rp. 2.000, Gresik, Tukang Tambal Ban miskin

14. Sofia, Rp. 25.000, Gresik, Miskin

15. Tia, Rp. 25.000, Gresik, Janda tua miskin

16. Dopa, Rp.25.000, Gresik, Janda tua miskin

17. Sidiq, Rp.50.000, Gresik, Duda tua, sakit,miskin

18. Hajir, Rp.25.000, Gresik, Buruh tani,miskin

19. Basuni, Rp. 25.000, Gresik, Duda miskin, tua

20.Sa’adah, Rp.230.000, Gresik, Janda tua miskin

21. Khadijah, Rp. 20.000, Gresik, Miskin

22. Mbok Nismi, Rp. 50.000, Surabaya, Janda tua miskin

23. Mbah Kartian, Rp. 100.000, Surabaya, Janda tua miskin

24. Mbah Lis, Rp. 20.000, Surabaya, Janda tua miskin

25. Ongkos Transport, Rp.100.000 ,Surabaya ,Transport Amil ke Gresik&Sby

26. Anwar, Rp.100.000, Surabaya, Tukang las,miskin

27. Wiwin, 30.000, Surabaya, Penjahit, guru TPA,miskin

28. Zufar, Rp. 30.000, Surabaya, Guru SD, guru ngaji,miskin

29. Ayu, Rp. 25.000, Surabaya, Pelajar, Piatu,miskin

30. Hanin, Rp.25.000, Surabaya, Pelajar miskin

31. Fadilla, Rp. 25.000, Surabaya, Pelajar miskin

32. Umi, Rp. 25.000,Surabaya, Miskin

33. Chafiedz, Rp. 25.000, Surabaya, Pelajar miskin

34. Toni, Rp. 25.000, Surabaya, Pelajar miskin

35. Fatah Hadi, Rp. 50.000,Surabaya, Sakit, Guru SMU,miskin

36. Ibrahim, Rp. 25.000, Surabaya, Anak miskin, sakit

37. Abidin, Rp. 20.000, Surabaya, Anak miskin

38. Cak Mat, Rp. 20.000, Surabaya, Penjual kue&alat RT keliling,miskin

39. Eko, Rp. 30.000, Surabaya, Sakit lama,miskin

40. Pak Kupang, Rp. 50.000, Surabaya, Penjual Lontong Kupang keliling,miskin

41. Pak Iis, Rp. 50.000, Surabaya, Sakit parah,komplikasi,miskin

42. Aminah, Rp. 100.000, Nguling, Janda,guru ngaji,miskin

43. Bulek Liha, Rp. 100.000, Nguling, Janda,miskin

44. Yuk Bad, Rp. 50.000, Puger, Janda,miskin

45. Anak yatim & anak sekolah tidak mampu 13 anak, Rp. 600.000 ,Nguling

46. Janda tua dan miskin 23 Orang, Rp. 650.000 , Nguling

47.Tukang becak  miskin 10 Orang, Rp. 250.000 , Nguling

48. Musholla untuk kegiatan syiar Islam, Rp. 100.000, Nguling, fisabilillah

49. Pelajar Miskin/Yatim, Rp.1.000.000, Ngawi , Bantuan beasiswa/pembayaran SPP kepada pelajar- pelajar miskin/yatim di Ngawi

50. Kurban 2 Ekor Kambing, Rp. 1.400.000 ,Daging kurban dibagikan di Nguling, Pasuruan

TOTAL Rp. 6.000.000

Jazakumullah Ahsanal Jaza’. Setulusnya terimakasih untuk Muzakki dari Mustahik, semoga Allah membalasnya dengan balasan terbaik.

Feb
06

Di bagian ini akan ditampilkan wajah-wajah pendistribusi zakat beserta biografi singkat dan alamatnya

under construction…

Feb
06

Di bagian ini akan ditampilkan kajian fiqh seputar zakat, infaq begitu juga telaah al-Quran dan hadits berkenaan dengan ZIS

under construction…

Feb
05

 

Berikut adalah rincian mustahik/penerima zakat dari seorang hamba Allah di Manila sebesar Rp. 1.500.000.

Daftar Penerima Zakat

1. Ibu Abdullah, Jakarta, Rp. 500.000

2. Pondok Pesantren & Orang Miskin Buntung, Probolinggo, Rp. 600.000

3. Wawan, Surabaya, Rp. 50.000

4.Saifuddin dan Iin, Gresik, Rp. 300.000

5. Pak Abu, Surabaya, Rp. 50.000

TOTAL Rp. 1.500.000

Keterangan

1. Membantu persalinan Ibu Abdullah yang hamil diluar kandungan. Ibu Abdullah tergolong miskin

2. Pondok Pesantren di Probolinggo ini menanggung dan banyak dihuni oleh anak-anak yatim dan miskin. Kondisi bangunan dan perekonomian pesantren memprihatinkan. Orang buntung itu adalah seorang miskin warga desa Bayeman, Probolinngo yang menderita penyakit hingga kakinya harus diputus.

3.Wawan adalah seorang pelajar yatim yang ibunya berjualan nasi pecel dengan warung ala kadarnya.

4. Saifuddin dan Iin berasal dari keluarga miskin yang dibantu pembayaran SPP nya.

5. Pak Abu adalah tukang las yang penghasilannnya pas-pasan.

Jazakumullah Ahsanal Jaza’

Feb
04

Sungguh pada hari itu (akhirat) setiap nikmat akan dipertanyakan.Tsumma Latusalunna Yawmaidzin ‘Anin Na’iim (al-Takatsur ayat 8 )

Dari desa Dukun, Gresik cerita ini mengalir. Aliran cerita yang ditandai airmata dan kesederhanaan. Sebuah keluarga miskin  namun tabah mengarungi hidup yang kian nampak tidak ramah. Nafas agama menjadikan mereka tegar menantang hidup. Sang ayah adalah seorang kuli batu yang jadual kerjanya amat tergantung dari ada tidaknya tawaran kerja.Jika ada proyekan , ia bekerja ,jika sepi ia menggarap sawahnya yang tidak seberapa. Istrinya juga ikut mengurus sawah kecilnya, harta milik yang mungkin paling berharga baginya.

Keluarga ini dikaruniai 4 orang anak, Iin adalah putri sulungnya, yang duduk dibangku Madrasah Aliyah (SMU). Iin membantu ekonomi keluarga dengan memasang manik-manik kerudung yang satu kodinya mendapat imbalan Rp.4000. Jadi satu kerudung dihargai Rp.200. Sungguh harga yang tidak pantas dengan keringat dan kerumitan mengerjakannya. Saifuddin adiknya masih di Madrasah Tsanawiyah (SMP). Dua adik Saifuddin masih di Sekolah Dasar yang terletak agak  jauh dari rumah sederhananya.  Hari itu hari ahad, hari libur bagi mereka yang belajar di SMP dan SMU tapi tidak bagi Iin dan Saifuddin yang hari libur madrasahnya adalah hari jum’at. Hari itu ayah ibu mereka sibuk mengurus sawahnya.

Sang amil berkunjung kerumah mereka dan berjumpa dengan Saifuddin dan Iin didalamnya. Sang amil dahulu tinggal bertetangga dengannya namun kini karena pekerjaan sang amil menetap di Surabaya.

“Bapak lagi kerja ya In?” tanya sang amil

“Lagi disawah Pak Lek dengan Ibu, ngurus jagung.”jawab Iin.

“Bentar Pak Lek saya panggil Bapak di sawah,”sambung Iin

Sang amil mengiyakan dan kemudian menengok Saifuddin yang nampaknya sedikit malu malu.

“Din, sekarang libur ya madrasah? Ada kegiatan apa Din kok diliburkan?” tanya Amil

“Tidak Pak Lek, sekarang hari penerimaan raport, tapi karena saya belum bayar jadinya ya gak masuk?” jawab Saifudin enteng seakan menandakan ketabahannya.

“Bayar berapa emangnya Din?” kejar Amil

“Belum bayar Rp.150 ribu Pak Lek?” jawab Saifuddin

Sampai disini Amil mendadak terhenti, seakan ada sesuatu yang mulai mencegat mulutnya untuk bertanya lebih lanjut. Tak lama sang Ayah datang dan sebagai teman lama mereka bersalaman dan saling bertukar berita.

Setelah asyik mengobrol, menengok lembaran masa lalu yang memang asyik untuk dikenang,sang amil memberikan sebagian uang zakat untuk membantu pembayaran SPP bagi Iin dan Saifudin kepada sang Ayah. Kalimat syukur dan ucapan terimakasih yang bening meluncur deras dari bibirnya. Disudut matanya, nampak airmata bahagia menggantung.Sebuah kebahagaian khas seorang ayah saat mampu memberikan sesuatuyang diminta anak-anaknya.

Sejurus kemudian sang Ayah mengajak Saifudin untuk pergi menuju sekolah mengambil raport anaknya. Wajah mereka berdua bersinar, seperti mentari hari itu yang cerah.Hari itu mungkin hari terindah bagi keduanya.

Menerima raport tidak hanya khas Saifuddin. Kita semua kelak juga akan menerima raport kehidupan diakhirat. Raport itu tidak sekedar alamat naik atau tinggal dikelas yang sama, tapi sebuah rekaman untuk kebahagian atau kesengsaraan abadi dialam sana. Setiap atom amal buruk akan tercatat rapi didalamnya. Setiap atom amal baik juga terekam didalamnya. Dan bahkan setiap nikmat yang kita dapat juga harus kita pertanggung jawabkan dihadapan Allah, Raja Segala Raja. Bagaimanakah kelak raport kehidupan kita?Bukankah indah mengisinya dengan berbagi bahagia dengan sesama lewat zakat dan derma?